BANJARMASINPOST.CO.ID, MARABAHAN - Puluhan hektar jagung hibrida di Desa Sido Makmur, Kecamatan Marabahan gagal panen tahun ini.
Hal ini membuat puluhan petani harus gigit jari. Akibat genangan air yang tidak turun sepanjang tiga pekan terakhir dan menyebabkan jagung mati.
"Kita sudah upayakan dengan penyedotan mesin skala besar, namun intensitas hujan masih tinggi bersamaan air pasang," terang Anton, petani jagung.
Ia pun menyampaikan, tanaman jagung tidak bisa bertahan lama saat terendam air. Maksimal selama tiga hari, setelah itu daunnya akan menguning dan perlahan mati.
Kondisi ini tidak hanya ia rasakan seorang diri, total keseluruhan luasan lahan petani jagung di Sido Makmur mencapai 50 hektar.
Ia pun memberikan gambaran. Per hektar rata-rata menelan biaya Rp 12 juta untuk sekali masa tanam. Mulai dari mengolah lahan, menanam benih hingga pemupukan.
Usia jagung yang gagal dipanen pun cukup variatif. Mulai dari baru ditanam, usia satu dan dua bulan, hingga menjelang masa panen.
Terkait kondisi air yang masih bertahan hingga hari ini, bersama petani lainnya Anton pun tidak dapat berbuat banyak dan pasrah. Ia hanya berharap air cepat surut dan dapat mengolah lahan kembali untuk ditanami.
"Cuman ya sedikit berharap, semoga saja dinas terkait, baik dari pemkab maupun provinsi berkenan melihat nasib kami di sini. Sehingga ada solusi untuk meringankannya," pesan Anton usai mengitari kebun jagung yang terendam.
Sumber: BANJARMASINPOST